Budidaya Mentimun Atau Bonteng (dalam bahasa Sunda)
A. Mentimun adalah sala satu jenis tanaman merambat (Cucumis sativus; suku labu-labuan atau (Cucurbitaceae), tanaman ini cukup bagus untuk dijadikan suuatu usaha dalam pertanian karena memilki masa panen cepat dan cukup menjanjikan. Mentimun merupakan tanaman yang mudah untuk dibudidayakan karena tekhnik dan perawatan tanaman ini mudah untuk dipelajari. Mentimun berasal dari benua Asia, beberapa sumber literatur menyebutkan daerah
asal tanaman mentimun adalah Asia Utara, tetapi sebagian lagi menduga berasal
dari Asia Selatan. Untuk perkembangan mentimun kebanyakan usaha tani mentimun
masih dianggap usaha sampingan sehingga rata-rata hasil mentimun secara
nasional masih rendah yakni antara 3,5-4,8 ton/hektar.
Peningkatan
produksi dan produktivitas mentimun penting artinya bagi pemenuhan kebutuhan
pasar (konsumen) dalam negeri maupun luar negeri. Bagian tanaman mentimun yang
di manfaatkan yaitu buah muda untuk di jadikan bahan sayuran, misalnya acar dan
lalaban, selain itu mentimun juga sering di manfaatkan untuk kecantikan (sarana
kosmetika), menjaga kesehatan tubuh, serta mengobati beberapa jenis penyakit.
read More>> http://abgfarm.blogspot.com/2014/11/budidaya-mentimun.html
read More>> http://abgfarm.blogspot.com/2014/11/budidaya-mentimun.html
1. Teknik Produksi
A. Syarat Tumbuh
Sebelum
melakukan budidaya pada tanaman mentimun, perlu diketahui syarat tumbuh yang
sesuai dengan kebutuhan tanaman. Khususnya tanaman mentimun, dimaksudkan agar
tanaman tersebut dapat tumbuh dan beradaptasi serta berkembang dengan baik
sehingga produksi hasilnya meningkat.
·
Daerah : Tropis -
SubTropis
·
Ketinggian
tempat : 100 m2 –
900 m2
·
Sinar
matahari : 90%
·
Kelembapan : 80% - 85%
·
Curah
hujan : 200mm – 400mm/bulan
·
Suhu : 210C
– 300C
2)
Syarat
Tanah
Tanah
yang digunakan adalah tanah subur dan remah, juga terbatas dari serangan hama
dan penyakit serta memilki pH antara 6 – 7. Di tanam pada tanah bertekstur lempung
yang baik draenasenya.
B. Teknik Budidaya Tanaman Mentimun
1)
Penyiapan
Lahan
Lahan
yang digunakan untuk usaha budidaya tanaman mentimun adalah seluas 20.000 m2
(2 Ha). Dengan tempat yang stategis dan akses air yang mudah. Tujuan
penyiapan lahan adalah untuk memudahkan dalam pengolahan tanah. Langkah awal
yang dilakukan adalah dengan membersihkan terlebih dahulu lahan yang akan
digunakan dari rumput-rumput liar dan sisa-sisa tanaman tidak berguna agar
tidak menjadi sarang penyakit.
2)
Pengolahan
tanah dan Pembuaan Guludan
Pengolahan
tanah bertujuan untuk menggemburkan tanah dengan cara di cangkul sedalam 30 cm,
dengan menggunakan Tenaga Kerja Manusia. Tanah yang diolah terlebih akan
memudahkan akar masuk ke dalam permukaan tanah sehingga pertumbuhan dan perkembangan
tanaman dapat berlangsung dengan baik.
Bersamaan
dengan waktu pengolahan tanah dilakukan pembuatan guludan dengan ukuran lebar
60 cm, panjang 30 m, tinggi 30 cm dan lebar parit adalah 80 cm. Setelah
terbentuk guludan taburkan pupuk dasar Phonska 500 kg/Ha diatas guludan secara
merata. Kemudian tutup pupuk tersebut dengan cara membalikan tanah sambil di
gembur-gemburkan lalu guludan dirapihkan kembali.
3)
Pembuatan
jarak tanam dan Lubang tanam
Setelah pengolahan lahan selesai dilakukan tahap
selanjutnya yaitu pembuatan jarak tanam ukuran 30 cm x 140 cm (jarak dalam
barisan x jarak antar guludan) dan lubang tanam dengan cara ditugal sedalam 3 –
5 cm.
4)
Penyiapan
benih
Benih
mentimun disiapkan sebelum penanaman. Benih mentimun (Cucumis sativus L) yang digunakan merupakan benih yang baik.
Ciri – ciri benih
yang baik :
·
Benih
murni atau tidak tercampur dengan benih varietas lain dan kotoran
·
Besar
biji seragam dan bernas
·
Daya
kecambah tinggi > 85%
·
Resisten
terhadap suatu hama dan penyakit
Benih yang dibutuhkan untuk lahan 20.000 m2 (2
Ha) ± 80 bungkus dengan isi per bungkusnya 800 biji.
5)
Penanaman
Penanaman mentimun dilakukan pada pagi hari dengan
sistem Tabela (Tanam Benih Langsung) di lahan pertanaman. Setelah menentukan
jarak tanam dan di buat lubang tanam, segera tanamkan benih mentimun ke dalam
lubang tanam dengan jumlah 2 biji/lubang tanam, namun hanya 1 bibit tanaman
yang dipelihara karena bibit yang satu digunakan sebagai cadangan untuk
pemeliharaan tanaman (penyulaman). Kemudian tutup lubang tanam tersebut dengan pupuk
kompos dengan dosis 500 kg/Ha hingga
hampir memenuhi lubang tanam dan taburkan pupuk NPK Mutiara dengan dosis 25
kg/Ha. Lalu siram tanah dengan air hingga cukup basah.
6)
Pemeliharaan
tanaman
Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan penulis pada
tanaman mentimun meliputi kegiatan :
a.
Penyiraman/Pengairan
b.
Penyulaman
c.
Pembumbunan
d.
Pemupukan
susulan
e.
Pemasangan
turus
f.
Pengikatan
sulur tanaman
g.
Pengendalian
gulma (penyiangan)
h.
Pengendalian
Hama dan Penyakit
a.
Penyiraman/Pengairan
Penyiraman pada
tanaman mentimun dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara di embrat dan di
leb. Pengairan dengan cara di embrat dilakukan rutin 2 kali sehari (pagi dan
sore) terutama pada fase awal pertumbuhan yaitu mulai saat setelah penanaman
sampai berumur ± 10 hst, agar kebutuhan airnya mencukupi, dan agar tanamannya
tumbuh segar dan bersih.
Sedangkan pengairan
berikutnya dilakukan dengan cara di leb yaitu dengan menggenangkan air ke
parit-parit hingga cukup membasahi guludan dan rutin dilakukan 2 hari sekali
sampai saat panen, agar kebutuhan air tanah tetap memadai. Karena jika pada
fase pembungaan dan pembuahan kekurangan air akan menyebabkan buah-buahnya
abnormal (bengkok).
b.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan
pada umur 5 – 7 hst atau seawal mungkin, dengan cara mencabut bibit yang tidak tumbuh
atau pertumbuhannya abnormal dengan bibit yang sehat dan bagus. Tujuannya agar
selang waktu pertumbuhan tanamaman sulaman dengan tanaman terdahulu tidak
terlalu jauh sehingga tanaman tampak seragam, dan juga untuk mempertahankan
populasi tanaman perluas lahan.
c.
Pembumbunan
Kegiatan ini
dilakukan pada saat tanaman berumur ±9 hst, dengan cara menambahkan tanah
lumpur pada lubang tanam hingga menutupi akar tanaman. Tujuan pembumbunan yaitu
agar tanaman mentimun tidak mudah rebah saat terkena angin kencang, serta
perakarannya kuat.
d.
Pemupukan
susulan
Pemupukan susulan
yaitu pemupukan yang di berikan pada saat pemeliharaan tanaman, dengan melihat
pertumbuhan tanaman baik vegetatif
maupun generatif. Pemupukan
susulan mentimun dilakukan 4 kali secara bertahap.Jenis dan dosis pupuk yang
digunakan adalah campuran dari pupuk phonska 75 kg/ha, ZA 75 kg/ha, NPK Mutiara
25 kg/ha, dan pupuk cantik 25 kg/ha. Setelah tercampur larutkan dalam air
dengan dosis 1 gayung pupuk (700 gr) per 1 ember air (20 liter air).Pemupukan
susulan di lakukan pada umur 12 hst, 22 hst, serta pada umur 32 hst dan 42 hst
yaitu pada fase pembungaan dan pembuahan, namun pada fase ini di beri tambahan
pupuk supracal dengan dosis 20 kg/ha, nitro phonska 25 kg/ha dan kcl 25 kg/ha,
karena untuk merangsang pembuahan serta buah yang di hasilkan bagus.
e.
Pemasangan
turus
Pemasangan turus
lanjaran dilakukan untuk proses perambatan tanaman yaitu pada saat tanaman
berumur ±15 hst, dengan cara menancapkan turus di sebelah kanan dan kiri lubang
tanam, lalu ujung atas diikat dengan rapi hingga posisi turus berbentuk
segitiga. Kegunaan turus bagi tanaman yaitu sebagai media untuk merambatnya
tanaman, memudahkan pemeliharaan dan sebagai tempat penopang buah yang letaknya
bergelantungan.
f.
Pengikatan
sulur tanaman
Pengikatan sulur
tanaman dilakukan dengan cara mengikatkan sulur tanaman pada turus menggunakan
alang-alang. Kegiatan ini dimaksudkan agar perambatan sulur tanaman mntimun
teratur mengikuti jalur turus sehingga memudahkan pemeliharaan selanjutnya.
g.
Pengendalian
gulma (penyiangan)
Setelah tanaman
berumur ±18 hst dilakukan pengendalian gulma dengan cara rumput-rumput disabit
lalu rumput sisa sabitan ditutup dengan tanah lumpur hingga menutupi tanah
guludan. Tujuannya adalah untuk menekan pertumbuhan gulma sehingga mengurangi
persaingan untuk mendapatkan unsur hara, serta agar tumbuh akar-akar baru pada
tanaman mentimun.
h.
Pengendalian
Hama dan Penyakit
Hama
a)
Oteng-oteng
(Aulocophora similer Oliver)
-
Ciri-ciri :
Berapa kumbang daun kecil yang panjangnya ±1 cm,bersayap warna kuning polos dan mengkilap.
-
Gejala
: Merusak dan memakan daging
daun, sehingga
daun bolong-bolong dan pada serangan
berat daun akan tinggal tulang daunnya saja.
- Pengendalian : Dengan melakukan pergiliran tanaman. Waktu tanam yang serempak (bersama) dan disemprot
dengan insektisida seperti Confidor 50 WP dosis 2 bungkus/hektar (1 bks =
100gr) dalam satu kali penyemprotan.
b)
Ulat
grayak (Spodoptera litura)
- Ciri - ciri : Ulat muda hijau kehitam-hitaman dengan
garis hitam melintang di bagian kepala, ulat dewasa berwarna lebih kehitaman
dengan garis membujur berwarna kuning di sepanjang tubuh di bagian samping
disertai bintik hitam.
- Gejala :
serangan ringan mengakibatkan daun-daun
berlubangbekas
gigitan ulat, sedangkan serangan berat
dapat
mengakibatkan tanaman menjadi gundul.
- Pengendalian :Sanitasi lahan, melakukan rotasi tanaman
serta di semprot dengan menggunakan Atabron 50 EC dosis 1 botol/hektar (1 btl =
200 ml) dalam satu kali penyemprotan.
c)
Tikus
(Rattus-rattus Sp)
-
Ciri - ciri : panjang dari hidung sampai ujung
ekor antara 270mm - 370mm. Memakan segala jenis tanaman baik yang
lahan
pertanaman maupun yang di gudang, Aktif pada
malam
hari, Warna badan kelabu gelap, sedang bagian
dada
dan perutnya berwarna keputih-putihan.
-
Gejala :
terdapat bekas gigitan tikus pada buah yang diserang.
-
Pencegahan :
dengan memasang plastik hama disekeliling lahan pertanaman.
-
Pengendalian :
dengan cara sanitasi lahan,dan disemprot dengan Koping plus dengan dosis 3
bungkus/hektar dalam satu kali penyemprotan.
Penyakit
a)
Penyakit
tepung (Powdery mildew)
-
Penyebab :
Cendawan Erysiphe cichoracearum DC
-
Gejala :
Pada daun dan batang tanaman muda terdapat lapisan putih bertepung. Kemudian
berubah menjadi warna kuning akhirnya kering dan mati.
- Pengendalian : Secara kultur teknis menanam benih yang resisten dan mencabut
tanaman yang terserang cukup parah. Secara kimia disemprot dengan menggunakan Winggran
dengan dosis 3 bungkus/hektar dalam satu kali penyemprotan.
b) Penyakit bercak daun
bersudut
-
Penyebab
: Bakteri
Pseudomonas lachrymans carsner
-
Gejala : Daun terdapat bercak-bercak
kecil berwarna kuning dan bersudut-sudut karena dibatasi tulang-tulang daun dan
pada buah akan menimbulkan busuk buah.
- Pengendalian : Dengan
melakukan pergiliran tanaman serta di Semprot dengan mengggunakan Bactocyn 150
AL dengan dosis 1 botol/hektar dalam satu kali penyemprotan.
c) Penyakit busuk buah
-
Penyebab : Cendawan Rhizopus Sp
-
Gejala : Terdapat bercak
kebasah-basahan, lunak pada kulit buah, kemudian membesar dan mengendap serta di
tumbuhi jamur sehingga buah mudah pecah.
-
Pengendalian : Pengendalian secara kultur teknis dengan
menghindari luka mekanis pada buah sewaktu dikebun maupun saat panen. Selepas
panen,penanganan hasil berikutnya dilakukan secara hati-hati agar buah mentimun
tidak memar, rusak atau luka-luka dan simpan dalam wadah yang bersih. Pengendalian
secara kimia disemprot dengan Bactocyn 150 AL.
d) Penyakit busuk daun
(Downy mildew)
-
Penyebab : Cendawan Pseudoperonospora
-
Gejala : Pada daun terdapat
bercak-bercak kuning bersudut. Bila keadaan cuaca lembab, pada sisi bawah
bercak terdapat jamur seperti bulu yang berwarna keungu-unguan. Warna daun yang
diserang akan berubah menjadi coklat membusuk.
-
Pengendalian : Memperbaiki draenase tanah, mengurangi
kelembaban kebun dengan cara memperbaiki jarak tanam, dan secara kimia disemprot dengan Sinon 70 WP (1
bks = 1kg) dosis 0,5 kg/hektar dalam satu kali penyemprotan.
2. Penanganan Panen dan Pasca Panen
2. Penanganan Panen dan Pasca Panen
1)
Panen
Panen
buah mentimun dilakukan pada saat tanaman berumur 35 hst. Selanjutnya dilakukan
setiap hari secara berturut-turut sebayak 33 kali pemanenan.
Pemanenan dilakukan
dengan cara dipetik langsung dan tangkainya secara manual menggunakan tangan.
Ciri-ciri buah mentimun yang siap di panen adalah buah berwarna hijau muda
cerah, bentuknya lurus dan tidak cacat dan berukuran sedang.
2)
Pasca
Panen
Buah
mentimun hasil panen dikumpulkan dalam wadah atau karung lalu disimpan di
tempat yang sejuk, agar buah mentimun tetap segar.
Kegiatan pasca panen
buah mentimun meliputi :
a.
Buah
hasil panen dikumpulkan
b.
Penimbangan
c.
Buah
siap di jual pada pembeli (pengumpul dan pengecer)
3. Pemasaran Hasil
3. Pemasaran Hasil
Setelah
dilakukan pemanenan, buah mentimun di jual langsung ke pedagang pengumpul
(tengkulak) tetapi pada akhir dilakukan pemanenan yaitu produksi berkurang dan
buah yang di hasilkan kurang baik, petani menjualnya langsung ke pengecer yang
dating ke kebun, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk meminimalkan kemungkinan
terjadinya kerugian. Jika digambarkan dalam rantai tata niaga adalah sebagai
berikut :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Vis