Jumat, 28 November 2014

Budidaya Mentimun

Budidaya Mentimun Atau Bonteng (dalam bahasa Sunda)


A. Mentimun adalah sala satu jenis tanaman merambat (Cucumis sativus; suku labu-labuan atau (Cucurbitaceae), tanaman ini cukup bagus untuk dijadikan suuatu usaha dalam pertanian karena memilki masa panen cepat dan cukup menjanjikan. Mentimun merupakan tanaman yang mudah untuk dibudidayakan karena tekhnik dan perawatan tanaman ini mudah untuk dipelajari. Mentimun berasal dari benua Asia, beberapa sumber literatur menyebutkan daerah asal tanaman mentimun adalah Asia Utara, tetapi sebagian lagi menduga berasal dari Asia Selatan. Untuk perkembangan mentimun kebanyakan usaha tani mentimun masih dianggap usaha sampingan sehingga rata-rata hasil mentimun secara nasional masih rendah yakni antara 3,5-4,8 ton/hektar.
Peningkatan produksi dan produktivitas mentimun penting artinya bagi pemenuhan kebutuhan pasar (konsumen) dalam negeri maupun luar negeri. Bagian tanaman mentimun yang di manfaatkan yaitu buah muda untuk di jadikan bahan sayuran, misalnya acar dan lalaban, selain itu mentimun juga sering di manfaatkan untuk kecantikan (sarana kosmetika), menjaga kesehatan tubuh, serta mengobati beberapa jenis penyakit.
read More>> http://abgfarm.blogspot.com/2014/11/budidaya-mentimun.html

1.    Teknik Produksi 
       A.    Syarat Tumbuh

 Sebelum melakukan budidaya pada tanaman mentimun, perlu diketahui syarat tumbuh yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Khususnya tanaman mentimun, dimaksudkan agar tanaman tersebut dapat tumbuh dan beradaptasi serta berkembang dengan baik sehingga produksi hasilnya meningkat.


1)    Syarat Iklim
·         Daerah                                : Tropis - SubTropis

·         Ketinggian tempat                : 100 m2 – 900 m2

·         Sinar matahari                     : 90%

·         Kelembapan                        : 80% - 85%

·         Curah hujan                         : 200mm – 400mm/bulan

·         Suhu                                   : 210C – 300C



2)    Syarat Tanah

Tanah yang digunakan adalah tanah subur dan remah, juga terbatas dari serangan hama dan penyakit serta memilki pH antara 6 – 7. Di tanam pada tanah bertekstur lempung yang baik draenasenya.



B.    Teknik Budidaya Tanaman Mentimun

1)    Penyiapan Lahan

Lahan yang digunakan untuk usaha budidaya tanaman mentimun adalah seluas 20.000 m2 (2 Ha). Dengan tempat yang stategis dan akses air yang mudah. Tujuan penyiapan lahan adalah untuk memudahkan dalam pengolahan tanah. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan membersihkan terlebih dahulu lahan yang akan digunakan dari rumput-rumput liar dan sisa-sisa tanaman tidak berguna agar tidak menjadi sarang penyakit.



2)    Pengolahan tanah dan Pembuaan Guludan

Pengolahan tanah bertujuan untuk menggemburkan tanah dengan cara di cangkul sedalam 30 cm, dengan menggunakan Tenaga Kerja Manusia. Tanah yang diolah terlebih akan memudahkan akar masuk ke dalam permukaan tanah sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat berlangsung dengan baik.

Bersamaan dengan waktu pengolahan tanah dilakukan pembuatan guludan dengan ukuran lebar 60 cm, panjang 30 m, tinggi 30 cm dan lebar parit adalah 80 cm. Setelah terbentuk guludan taburkan pupuk dasar Phonska 500 kg/Ha diatas guludan secara merata. Kemudian tutup pupuk tersebut dengan cara membalikan tanah sambil di gembur-gemburkan lalu guludan dirapihkan kembali.



3)    Pembuatan jarak tanam dan Lubang tanam

Setelah pengolahan lahan selesai dilakukan tahap selanjutnya yaitu pembuatan jarak tanam ukuran 30 cm x 140 cm (jarak dalam barisan x jarak antar guludan) dan lubang tanam dengan cara ditugal sedalam 3 – 5 cm.



4)    Penyiapan benih

Benih mentimun disiapkan sebelum penanaman. Benih mentimun (Cucumis sativus L) yang digunakan merupakan benih yang baik.

Ciri – ciri benih yang baik :

·               Benih murni atau tidak tercampur dengan benih varietas lain dan kotoran

·               Besar biji seragam dan bernas

·               Daya kecambah tinggi > 85%

·               Resisten terhadap suatu hama dan penyakit

Benih yang dibutuhkan untuk lahan 20.000 m2 (2 Ha) ± 80 bungkus dengan isi per bungkusnya 800 biji.



5)    Penanaman

Penanaman mentimun dilakukan pada pagi hari dengan sistem Tabela (Tanam Benih Langsung) di lahan pertanaman. Setelah menentukan jarak tanam dan di buat lubang tanam, segera tanamkan benih mentimun ke dalam lubang tanam dengan jumlah 2 biji/lubang tanam, namun hanya 1 bibit tanaman yang dipelihara karena bibit yang satu digunakan sebagai cadangan untuk pemeliharaan tanaman (penyulaman). Kemudian tutup lubang tanam tersebut dengan pupuk kompos dengan dosis 500  kg/Ha hingga hampir memenuhi lubang tanam dan taburkan pupuk NPK Mutiara dengan dosis 25 kg/Ha. Lalu siram tanah dengan air hingga cukup basah.



6)    Pemeliharaan tanaman

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan penulis pada tanaman mentimun meliputi kegiatan :

a.     Penyiraman/Pengairan

b.     Penyulaman

c.     Pembumbunan

d.     Pemupukan susulan

e.     Pemasangan turus

f.      Pengikatan sulur tanaman

g.     Pengendalian gulma (penyiangan)

h.     Pengendalian Hama dan Penyakit



a.     Penyiraman/Pengairan

Penyiraman pada tanaman mentimun dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara di embrat dan di leb. Pengairan dengan cara di embrat dilakukan rutin 2 kali sehari (pagi dan sore) terutama pada fase awal pertumbuhan yaitu mulai saat setelah penanaman sampai berumur ± 10 hst, agar kebutuhan airnya mencukupi, dan agar tanamannya tumbuh segar dan bersih.

Sedangkan pengairan berikutnya dilakukan dengan cara di leb yaitu dengan menggenangkan air ke parit-parit hingga cukup membasahi guludan dan rutin dilakukan 2 hari sekali sampai saat panen, agar kebutuhan air tanah tetap memadai. Karena jika pada fase pembungaan dan pembuahan kekurangan air akan menyebabkan buah-buahnya abnormal (bengkok).



b.     Penyulaman

Penyulaman dilakukan pada umur 5 – 7 hst atau seawal mungkin, dengan cara mencabut bibit yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya abnormal dengan bibit yang sehat dan bagus. Tujuannya agar selang waktu pertumbuhan tanamaman sulaman dengan tanaman terdahulu tidak terlalu jauh sehingga tanaman tampak seragam, dan juga untuk mempertahankan populasi tanaman perluas lahan.



c.     Pembumbunan

Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur ±9 hst, dengan cara menambahkan tanah lumpur pada lubang tanam hingga menutupi akar tanaman. Tujuan pembumbunan yaitu agar tanaman mentimun tidak mudah rebah saat terkena angin kencang, serta perakarannya kuat.





d.     Pemupukan susulan

Pemupukan susulan yaitu pemupukan yang di berikan pada saat pemeliharaan tanaman, dengan melihat pertumbuhan tanaman baik vegetatif  maupun generatif.  Pemupukan susulan mentimun dilakukan 4 kali secara bertahap.Jenis dan dosis pupuk yang digunakan adalah campuran dari pupuk phonska 75 kg/ha, ZA 75 kg/ha, NPK Mutiara 25 kg/ha, dan pupuk cantik 25 kg/ha. Setelah tercampur larutkan dalam air dengan dosis 1 gayung pupuk (700 gr) per 1 ember air (20 liter air).Pemupukan susulan di lakukan pada umur 12 hst, 22 hst, serta pada umur 32 hst dan 42 hst yaitu pada fase pembungaan dan pembuahan, namun pada fase ini di beri tambahan pupuk supracal dengan dosis 20 kg/ha, nitro phonska 25 kg/ha dan kcl 25 kg/ha, karena untuk merangsang pembuahan serta buah yang di hasilkan bagus.



e.     Pemasangan turus

Pemasangan turus lanjaran dilakukan untuk proses perambatan tanaman yaitu pada saat tanaman berumur ±15 hst, dengan cara menancapkan turus di sebelah kanan dan kiri lubang tanam, lalu ujung atas diikat dengan rapi hingga posisi turus berbentuk segitiga. Kegunaan turus bagi tanaman yaitu sebagai media untuk merambatnya tanaman, memudahkan pemeliharaan dan sebagai tempat penopang buah yang letaknya bergelantungan.



f.      Pengikatan sulur tanaman

Pengikatan sulur tanaman dilakukan dengan cara mengikatkan sulur tanaman pada turus menggunakan alang-alang. Kegiatan ini dimaksudkan agar perambatan sulur tanaman mntimun teratur mengikuti jalur turus sehingga memudahkan pemeliharaan selanjutnya.

g.     Pengendalian gulma (penyiangan)

Setelah tanaman berumur ±18 hst dilakukan pengendalian gulma dengan cara rumput-rumput disabit lalu rumput sisa sabitan ditutup dengan tanah lumpur hingga menutupi tanah guludan. Tujuannya adalah untuk menekan pertumbuhan gulma sehingga mengurangi persaingan untuk mendapatkan unsur hara, serta agar tumbuh akar-akar baru pada tanaman mentimun.



h.     Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama

a)    Oteng-oteng (Aulocophora similer Oliver)

-             Ciri-ciri              : Berapa kumbang daun kecil yang panjangnya  ±1 cm,bersayap warna kuning polos dan mengkilap.

-             Gejala               : Merusak dan memakan daging daun, sehingga

       daun bolong-bolong dan pada serangan berat daun akan tinggal tulang daunnya saja.

-       Pengendalian      : Dengan melakukan pergiliran tanaman. Waktu    tanam yang serempak (bersama) dan disemprot dengan insektisida seperti Confidor 50 WP dosis 2 bungkus/hektar (1 bks = 100gr) dalam satu kali penyemprotan.



b)    Ulat grayak (Spodoptera litura)

-        Ciri - ciri       : Ulat muda hijau kehitam-hitaman dengan garis hitam melintang di bagian kepala, ulat dewasa berwarna lebih kehitaman dengan garis membujur berwarna kuning di sepanjang tubuh di bagian samping disertai bintik hitam.

-       Gejala           : serangan ringan mengakibatkan daun-daun

       berlubangbekas gigitan ulat, sedangkan serangan berat

        dapat mengakibatkan tanaman menjadi gundul.

-    Pengendalian     :Sanitasi lahan, melakukan rotasi tanaman serta di semprot dengan menggunakan Atabron 50 EC dosis 1 botol/hektar (1 btl = 200 ml) dalam  satu kali penyemprotan.



c)     Tikus (Rattus-rattus Sp)

-         Ciri - ciri            : panjang dari hidung sampai ujung ekor antara 270mm - 370mm. Memakan segala jenis tanaman baik yang

       lahan pertanaman maupun yang di gudang, Aktif pada

       malam hari, Warna badan kelabu gelap, sedang bagian

       dada dan perutnya berwarna keputih-putihan.

-        Gejala                : terdapat bekas gigitan tikus pada buah yang diserang.

-        Pencegahan        : dengan memasang plastik hama disekeliling lahan pertanaman.

-       Pengendalian        : dengan cara sanitasi lahan,dan disemprot dengan Koping plus dengan dosis 3 bungkus/hektar dalam satu kali penyemprotan.



Penyakit

a)    Penyakit tepung (Powdery mildew)

-         Penyebab         : Cendawan Erysiphe cichoracearum DC

-         Gejala             : Pada daun dan batang tanaman muda terdapat lapisan putih bertepung. Kemudian berubah menjadi warna kuning akhirnya kering dan mati.



-      Pengendalian   : Secara kultur teknis menanam benih yang resisten dan mencabut tanaman yang terserang cukup parah. Secara kimia disemprot dengan menggunakan Winggran dengan dosis 3 bungkus/hektar dalam satu kali penyemprotan.



b)    Penyakit bercak daun bersudut

-             Penyebab           :  Bakteri Pseudomonas lachrymans carsner

-             Gejala             : Daun terdapat bercak-bercak kecil berwarna kuning dan bersudut-sudut karena dibatasi tulang-tulang daun dan pada buah akan menimbulkan busuk buah.

-   Pengendalian :  Dengan melakukan pergiliran tanaman serta di Semprot dengan mengggunakan Bactocyn 150 AL dengan dosis 1 botol/hektar dalam satu kali penyemprotan.



c)     Penyakit busuk buah

-             Penyebab           : Cendawan Rhizopus Sp

-             Gejala               : Terdapat bercak kebasah-basahan, lunak pada kulit buah, kemudian membesar dan mengendap serta di tumbuhi jamur sehingga buah mudah pecah.

-             Pengendalian      : Pengendalian secara kultur teknis dengan menghindari luka mekanis pada buah sewaktu dikebun maupun saat panen. Selepas panen,penanganan hasil berikutnya dilakukan secara hati-hati agar buah mentimun tidak memar, rusak atau luka-luka dan simpan dalam wadah yang bersih. Pengendalian secara kimia disemprot dengan Bactocyn 150 AL.





d)    Penyakit busuk daun (Downy mildew)

-             Penyebab           : Cendawan Pseudoperonospora

-             Gejala              : Pada daun terdapat bercak-bercak kuning bersudut. Bila keadaan cuaca lembab, pada sisi bawah bercak terdapat jamur seperti bulu yang berwarna keungu-unguan. Warna daun yang diserang akan berubah menjadi coklat membusuk.

-             Pengendalian      : Memperbaiki draenase tanah, mengurangi kelembaban kebun dengan cara memperbaiki jarak tanam, dan  secara kimia disemprot dengan Sinon 70 WP (1 bks = 1kg) dosis 0,5 kg/hektar dalam satu kali penyemprotan.   

2.    Penanganan Panen dan Pasca Panen

1)    Panen

Panen buah mentimun dilakukan pada saat tanaman berumur 35 hst. Selanjutnya dilakukan setiap hari secara berturut-turut sebayak 33 kali pemanenan.

Pemanenan dilakukan dengan cara dipetik langsung dan tangkainya secara manual menggunakan tangan. Ciri-ciri buah mentimun yang siap di panen adalah buah berwarna hijau muda cerah, bentuknya lurus dan tidak cacat dan berukuran sedang.



2)    Pasca Panen

Buah mentimun hasil panen dikumpulkan dalam wadah atau karung lalu disimpan di tempat yang sejuk, agar buah mentimun tetap segar.

Kegiatan pasca panen buah mentimun meliputi :

a.     Buah hasil panen dikumpulkan

b.     Penimbangan

c.     Buah siap di jual pada pembeli (pengumpul dan pengecer)
 3.    Pemasaran Hasil

Setelah dilakukan pemanenan, buah mentimun di jual langsung ke pedagang pengumpul (tengkulak) tetapi pada akhir dilakukan pemanenan yaitu produksi berkurang dan buah yang di hasilkan kurang baik, petani menjualnya langsung ke pengecer yang dating ke kebun, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kerugian. Jika digambarkan dalam rantai tata niaga adalah sebagai berikut :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Vis